Rabu, 24 September 2014

DEFISINI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA MENURUT PARA AHLI ATAU SUMBER YANG LAIN

DEFISINI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA MENURUT PARA AHLI ATAU SUMBER YANG LAIN
A.  Definisi Pendidikan Olahraga menurut Tokoh-tokoh Pendidikan
Istilah pendidikan jasmani berawal dari Amerika Serikat berawal dari istilah gymnastics, hygiene, dan physical culture Siedentop (1972).Berikut pengertian pendidikan jasmani menurut ahli :
1.      Cholik Mutohir (Cholik Mutohir, 1992).
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
2.      Nixon and Cozens (1963: 51)
Mengemukakan bahwa pendidikan jasmani didefinisikan sebagai fase dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas dan respons otot yang giat dan berkaitan dengan perubahan yang dihasilkan individu dari respons tersebut.
3.      Dauer dan Pangrazi (1989: 1)
Mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap anak. Pendidikan jasmani didefinisikan sebagai pendidikan dan melalui gerak dan harus dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat agar memiliki makna bagi anak. Pendidikan jasmani merupakan program pembelajaran yang memberikan perhatian yang proporsional dan memadai pada domain-domain pembelajaran, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif.
4.      Bucher, (1979).         
Mengemukakan pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan, adalah proses pendidikan melalui kegiatan fisik yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan organik, neuromuskuler, interperatif, sosial, dan emosional.
5.      Ateng (1993)
Mengemukakan; pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.

6.      Siedentop (1991),
Seorang pakar pendidikan jasmani dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa dewasa ini pendidikan jasmani dapat diterima secara luas sebagai model “pendidikan melalui aktivitas jasmani”, yang berkembang sebagai akibat dari merebaknya telaahan pendidikan gerak pada akhir abad ke-20 ini dan menekankan pada kebugaran jasmani, penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan perkembangan sosial. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa: "pendidikan jasmani adalah pendidikan dari, tentang, dan melalui aktivitas jasmani".
7.      Jesse Feiring Williams (1999; dalam Freeman, 2001)
Pendidikan jasmani adalah sejumlah aktivitas jasmani manusiawi yang terpilih sehingga dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pengertian ini didukung oleh adanya pemahaman bahwa:
Manakalah pikiran (mental) dan tubuh disebut sebagai dua unsur yang terpisah, pendidikan, pendidikan jasmani yang menekankan pendidikan fisikal... melalui pemahaman sisi kealamiahan fitrah manusia ketika sisi keutuhan individu adalah suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri, pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui fisikal. Pemahaman ini menunjukkan bahwa pendidikan jasmani juga terkait dengan respon emosional, hubungan personal, perilaku kelompok, pembelajaran mental, intelektual, emosional, dan estetika.’ Pendidikan melalui fisikal maksudnya adalah pendidikan melalui aktivitas fisikal (aktivitas jasmani), tujuannya mencakup semua aspek perkembangan kependidikan, termasuk pertumbuhan mental, sosial siswa. Manakala tubuh sedang ditingkatkan secara fisik, pikiran (mental) harus dibelajarkan dan dikembangkan, dan selain itu perlu pula berdampak pada perkembangan sosial, seperti belajar bekerjasama dengan siswa lain.
8.      Rink (1985)
Mendefinisikan pendidikan jasmani sebagai "pendidikan melalui fisikal", seperti:
‘Kontribusi unik pendidikan jasmani terhadap pendidikan secara umum adalah perkembangan tubuh yang menyeluruh melalui aktivitas jasmani. Ketika aktivitas jasmani ini dipandu oleh para guru yang kompeten, maka basil berupa perkembangan utuh insani menyertai perkembangan fisikal-nya. Hal ini hanya dapat dicapai ketika aktivitas jasmani menjadi budaya dan kebiasaan jasmani atau pelatihan jasmani.’ Pendapat lain namun dalam ungkapan yang senada, seperti diungkapkan.
9.      James A.Baley dan David A.Field (2001; dalam Freeman, 2001)
Menekankan bahwa pendidikan fisikal yang dimaksud adalah aktivitas jasmani yang membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh. Lebih lanjut kedua ahli ini menyebutkan bahwa: ‘Pendidikan jasmani adalah suatu proses terjadinya adaptasi dan pembelajaran secara organik, neuromuscular, intelektual, sosial, kultural, emosional, dan estetika yang dihasilkan dari proses pemilihan berbagai aktivitas jasmani.’ Aktivitas jasmani yang dipilih disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dan kapabilitas siswa. Aktivitas fisikal yang dipilih ditekankan pada berbagai aktivitas jasmani yang wajar, aktivitas jasmani yang membutuhkan sedikit usaha sebagai aktivitas rekreasi dan atau aktivitas jasmani yang sangat membutuhkan upaya keras seperti untuk kegiatan olahraga kepelatihan atau prestasi. Pendidikan jasmani memusatkan diri pada semua bentuk kegiatan aktivitas jasmani yang mengaktifkan otot-otot besar (gross motorik), memusatkan diri pada gerak fisikal dalam permainan, olahraga, dan fungsi dasar tubuh manusia.
10.  Freeman (2001:5)
Menyatakan pendidikan jasmani dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok bagian, yaitu:
Pendidikan jasmani dilaksanakan melalui media fisikal, yaitu: beberapa aktivitas fisikal atau beberapa tipe gerakan tubuh. Aktivitas jasmani meskipun tidak selalu, tetapi secara umum mencakup berbagai aktivitas gross motorik dan keterampilan yang tidak selalu harus didapat perbedaan yang mencolok. Meskipun para siswa mendapat keuntungan dari proses aktivitas fisikal ini, tetapi keuntungan bagi siswa tidak selalu harus berupa fisikal, non-fisikal pun bisa diraih seperti: perkembangan intelektual, sosial, dan estetika, seperti juga perkembangan kognitif dan afektif. Secara utuh, pemahaman yang harus ditangkap adalah: pendidikan jasmani menggunakan media fisikal untuk mengembangkan kesejahteraan total setiap orang. Karakteristik pendidikan jasmani seperti ini tidak terdapat pada mata pelajaran lain, karena hasil kependidikan dari pengalaman belajar fisikal tidak terbatas hanya pada perkembangan tubuh saja. Konteks melalui aktivitas jasmani yang dimaksud adalah konteks yang utuh menyangkut semua dimensi tentang manusia, seperti halnya hubungan tubuh dan pikiran. Tentu, pendidikan jasmani tidak hanya menyebabkan seseorang terdidik fisiknya, tetapi juga semua aspek yang terkait dengan kesejahteraan total manusia, seperti yang dimaksud dengan konsep “kebugaran jasmani sepanjang hayat”. Seperti diketahui, dimensi hubungan tubuh dan pikiran menekankan pada tiga domain pendidikan, yaitu: psikomotor, afektif, dan kognitif. Beberapa ahli dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga,
11.  Syer & Connolly (1984); Clancy (2006); Begley (2007),
Menyebutkan hal senada bahwa “tubuh adalah tempat bersemayamnya pikiran.” Ada unsur kesatuan pemahaman antara tubuh dengan pikiran.
Kesatuan Unsur Tubuh dan Pikiran Salah satu masalah besar, untuk selama bertahun-tahun lamanya seolah tidak akan pernah tuntas, adalah perdebatan antara intelektual dan jasmani. Kepercayaan banyak orang adalah bahwa tubuh terpisah dari pikiran, yang kemudian memunculkan pemahaman "dualisme" dan cenderung mengarah pada pikiran adalah sesuatu yang diutamakan, sementara tubuh adalah sesuatu yang inferior. Sebagai contoh, sering didapatkan pada rohaniawan yang mengutamakan pada kesempurnaan pikiran, daripada kesejahteraan fisiknya. Bahkan sampai pada keyakinan bahwa pikiran berada di atas unsur tubuh, dan mengendalikan semua sistem tubuh yang ada. Sebaliknya, ada juga filosofi yang menyebutkan bahwa tubuh dan pikiran bersatu, yang kemudian dikenal sebagai aliran pemahaman holism, suatu kesatuan antara tubuh dan pikiran. Keyakinan ini dapat dengan mudah dikenali, seperti yang sering didengar sebuah semboyan Orandum est ute sit men sana in corpore sano atau seperti: a sound mind in a sound body (Krecthmar, 2005:51). Moto seperti ini, sering dijadikan rujukan dalam setiap pelaksanaan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani memanfaatkan aktivitas jasmani untuk mengembangkan aspek tubuh dan pikiran, dan bahkan aspek spiritual. Hal ini pun menjadi fokus orientasi utama dalam pengembangan aktivitas jasmani sebagai upaya pengembangan utuh-manusia.Pertanyaan utama yang patut dimunculkan adalah apakah benar keyakinan terhadap kesatuan tubuh dan pikiran? Pada kenyataannya di masyarakat sering ditemukan keyakinan bahwa tubuh dan pikiran berada pada sifat dualism. Sesungguhnya, pendidikan jasmani mencoba membuktikan dan meyakinkan setiap orang bahwa tubuh dan pikiran berpadu menjadi satu kesatuan dalam konsep holism, meskipun pikiran berada di atas kedudukan tubuh. Inilah bukti bahwa perdebatan itu akan senantiasa muncul sebagai akibat adanya dinamika dalam pemikiran. Pendapat yang bijak dapat dimunculkan ketika mencoba memposisikan diri pada pemikiran netral, bijak dalam memposisikan masing-masing pendapat, pikiran mengendalikan tubuh, tetapi tubuh pun dapat memberikan informasi dan mempengaruhi pikiran. Pembenaran akan dapat diterima ketika apa yang terjadi sesuai dengan landasan teoritisnya. Tetapi, teori dapat diterima ketika sejalan dengan apa yang terjadi.
12.  Menurut WHO
Pendidikan Jasmani adalah kegiatan jasmani yang diselenggarakan untuk menjadi media bagi kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah kegiatan yang merupakan proses untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rohaniah yang meliputi aspek mental, intelektual dan bahkan spiritual. Sebagai bagian dari kegiatan pendidikan, maka pendidikan jasmani merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera Rohani (melalui kegiatan jasmani), yang dalam lingkup sehat WHO berarti sehat rohani.


13.  Kesimpuan Zandra Dwanita Widodo 
Dari seluruh tokoh pendidikan tentang arti dari pendidikan jasmani, yaitu pendidikan jasmani dapat diartikan sebagai bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan, melalui kegiatan fisik yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan organik, neuromuskuler, interperatif, sosial, dan emosional melalui kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

B.  Definisi Pendidikan Olahraga menurut Tokoh-tokoh Pendidikan
Berikut pengertian pendidikan olahraga menurut ahli :
1.    Webster’s New Collegiate Dictonary (1980) 
Olahraga yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat)
2.    Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson,Children in Sport dalam Bloomfield,J, Fricker P.A. and Fitch,K.D., 1992) 
Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik; artinya Olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti Penjas-Or .
3.    World Conference On Education and Sports for Culture of Peace (I0C, Juli 1999), 
Menyebutkan bahwa:
a.    Olahraga adalah suatu sekolah kehidupan dan dapat menjadi sekolah perdamaian.
b.   Olahraga dapat membangun jembatan perdamaian di antara orang-orang  dan ras.
c.    Olahraga adalah hak asasi manusia seperti hak pendidikan, hak untuk identitas
d.   Olahraga adalah alat yang baik untuk memperkenalkan kebiasaan dari kehormatan.
4.    Ensiklopedia Indonesia 
Makna olahraga adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan.

5.    Menpora Maladi
pengertian olahraga yaitu mencakup segala kegiatan manusia yang ditujukan untuk melaksanakan misi hidupnya dan cita-cita hidupnya, cita-cita nasional politik, sosial, ekonomi, kultural dan sebagainya.
6.    UNESCO 
Mendefinisikan olahraga sebagai “setiap  aktivitas  fisik  berupa permainan  yang berisikan  perjuangan  melawan unsur-unsur  alam, orang lain, ataupun  diri  sendiri”.


CONTOH GERAKAN SENAM

GERAKAN SENAM 
1.  LATIHAN PERTAMA.
Hitungan 1
:
Kaki kanan, jalan ke depan dengan lentur, tangan mengepal, lengan membentuk siku, lengan kanan ke arah atas, tangan kiri ditekuk di depan dada
Hitungan 2
:
Kaki kiri terus melangkah posisi tangan sama seperti hitungan 1
Hitungan 3
:
Kaki kanan, jalan ke depan dengan lentur, tangan mengepal, lengan membentuk siku, lengan kanan ditekuk di depan dada, tangan kiri ditekuk lurus ke arah atas
Hitungan 4
:
Kaki kiri terus melangkah posisi tangan sama seperti hitungan 3
Hitungan 5
:
Seperti hitungan 1.
Hitungan 6
:
Seperti hitungan 2
Hitungan 7
:
Seperti hitungan 3
Hitungan 8
:
Seperti hitungan 4




2.    LANGKAH KEDUA
Hitungan 1
:
Kaki kanan di buka selebar bahu, tangan kanan lurus kesamping, tangan kiri ditekuk di depan dada
Hitungan 2
:
Posisi tangan seperti pada hitungan 1, tapi kaki merapat di tengah
Hitungan 3
:
Kaki kiri dibuka selebar bahu, tangan kiri lurus kesamping, tangan kanan ditekuk di depan dada
Hitungan 4
:
Posisi tangan seperti pada hitungan 3, tapi kaki merapat di tengah
Hitungan 5
:
Seperti hitungan 1.
Hitungan 6
:
Seperti hitungan 2
Hitungan 7
:
Seperti hitungan 3
Hitungan 8
:
Seperti hitungan 4

3.    LATIHAN KETIGA
Hitungan 1
:
Buka kaki selebar bahu, lutut ditekuk sedikit lengan ke arah depan bersudut 900 jari tangan mengepal menghadap ke bawah.
Hitungan 2
:
Kaki kiri ditekuk ke arah belakang panggul kanan, tangan ditekuk ke depan dada dengan poros di bahu, tangan di atas tangan kiri.
Hitungan 3
:
Seperti hitungan 1
Hitungan 4
:
Seperti hitungan 2, hanya posisi kaki dan tangan kebalikan.
Hitungan 5
:
Seperti hitungan 1.
Hitungan 6
:
Seperti hitungan 2
Hitungan 7
:
Seperti hitungan 3
Hitungan 8
:
Seperti hitungan 4



4.    LATIHAN KEEMPAT
Hitungan 1
:
Pindahkan berat badan ke kanan, sambil ayun kedua lengan ke kanan sejajar bahu, jari-jari lurus dan rapat menghadap ke bawah.
Hitungan 2
:
Badan kembali ke tengah, tekuk kedua lutut, lengan ke bawah, jari tangan menghadap ke paha.
Hitungan 3
:
Seperti hitungan 1, tapi ke arah kiri.
Hitungan 4
:
Seperti hitungan 2
Hitungan 5-8
:
Mengulang gerakan pada hitungan 1-4


Selasa, 12 November 2013

KONSEP DASAR DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU

KONSEP DASAR DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
1.    Kegiatan Belajar 1
Konsep Dasar Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
A.  Pengertian Pembelajaran Terpadu
Terdapat dua istilah yang secara teoritis memiliki hubungan yang saling terkait dan ketergantungan satu dan lainnya, yaitu kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu. Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungakan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, keterampilan, dan sikap (Wolfinger, 1994:133).
Rasional masalah dan pengalaman itu antara lain disebabkan oleh beberapa hal berikut :
1.    Kebanyakan masalah dan pengalaman bersifat interdisipliner, sehingga untuk memahami, mempelajari dan memecahkannya diperlukan multi-skill.
2.    Adanya tuntutan interaksi kolaboratif yang tinggi dalam memecahkan berbagai masalah.
3.    Memudahkan anak membuat hubungan antar skema dan transfer pemahaman antar konteks.
4.    Demi efisiensi.
5.    Adanya tuntutan keterlibatan anak yang tinggi dalam proses pembelajaran.
Sejalan dengan hal diatas, pembelajaran terpadu banyak dipengaruhi oleh eksplorasi topik yang ada di dalam kurikulum sehingga anak dapat belajar menghubungkan proses dan isi pembelajaran secara lintas disiplin dalam waktu yang bersamaan.
Perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu terletak pada segi perencanaan dan pelaksanaannya.
Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.
Fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusahaa memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkannya (Aminuddin, 1994). Berdasarkan hal tersebut, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai :
1.    Pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
2.    Cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan).
3.    Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pelaksanaan pendekatan pembelajaran terpadu bertolak dari sutau topik atau tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan anak. Tujuan dari tema ini untuk menguasai konsep-konsep dari mata pelajaran terkait dijadikan sebagai alat dan wahana untuk mempelajari dan menjelajahi topik atau tema tersebut.
B.  Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Terdapat beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran terpadu, yaitu : Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa. (student centered), dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences), pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas, menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran, bersifat luwes (fleksibel), dan hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Beberapa kelebihan dari Pembelajaran Terpadu berikut ini, kegiatan belajar akan relevan dengan tingkat perkembangan siswa, kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama, dapat menumbuh kembangkan keterampilan berpikir siswa dan keterampilan sosial siswa.
Selain beberapa kekuatan atau kelebihan di atas, penerapan pembelajaran terpadu di sekolah dasar memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaannya, diataranya : dalam kurikulum 2004 kompetensi dasar pada mata pelajaran yang ada tidak semua dapat dipadukan sehingga menyulitkan guru dalam mengembangkan program, membutuhkan sarana dan prasarana belajar yang memadai, dan belum semua guru memahami konsep pembelajaran terpadu secara utuh.
C.  Landasan Pembelajaran Terpadu
Landasan-landasan tersebut pada hakikatnya adalah faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para guru pada waktu merencanakan, melaksanakan, serta menilai proses dan hasil.
Landasan-landasan yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan praktis. Landasan filosofis dimaksudkan pentingnya aspek filsafat dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu, bahkan landasan filsafat ini menjadi landasan utama yang melandasi aspek-aspek lainnya. Landasan psikologis diperlukan dalam menentukan isi/materi pembelajaran terpadu yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan belajar sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik, dengan kata lain berkenaan dengan penentuan cara/metode pembelajaran. Sedangkan Landasan praktis berkaitan dengan kondisi-kondisi nyata yang terjadi dalam proses pembelajaran.
Secara filosofis, kemunculan pembelajaran terpadu sangat dpengaruhi oleh tiga filsafat berikut : (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanism.
1.    Aliran progresivisme beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya perlu sekali ditekankan pada : (a) pembentukan kreativitas, (b) pemberian sejumlah kegiatan, (c) suasana yang alamiah (natural), dan (d) memperhatikan pengalaman siswa. Dalam hal demikian maka akan terjadi proses berpikir yang terkait dengan “metakognisi”, yaitu proses menghubungkan pengetahuan dan pengalaman belajar dengan pengetahuan lain untuk menghasilkan sesuaatu (J. Marzona et al, 1992)
2.    Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari guru kepada siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus.
3.    Aliran humanism melihat siswa dari segi : (a) keunikan/kekhasannya, (b) potensinya, dan (c) motivasi yang dimilikinya.
Secara fitrah siswa memiliki bekal atau potensi yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersbut dalam kegiatan pembelajaran yaitu : (a) guru bukan merupakan satu-satunya sumber informasi, (b) siswa disikapi sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahamannya sendiri,(c) guru lebih bertindak sebagai model dan penyedia bahan pembelajaran.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Dalam hal ini psikologi sebagai acuan dalam menentukan apa dan bagaimana perilaku itu harus dikembangkan.
Pandangan-pandangan psikologis yang melandasi pembelajaran terpadu dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Pengalaman langsung siswa adalah kunci dari pembelajaran.
2.    Siswa dapat menemukan pola dan hubungan antara gagasan-gagasan yang ada dari berbagai disiplin ilmu.
3.    Peran guru bukanlah satu-satunya pihak yang paling menentukan, tetapi lebih banyak bertindak sebagai tut wuri handayani.
4.    Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat diringya dan sekitarnya secara utuh (holistik).
Landasan praktis diperlukan karena melaksanakan pembelajaran terpadu secara aplikatif di dalam kelas. Dengan landasan praktis kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek dapat dipersempit dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa akan mampu berpikir teoritis dan pada saat yang sama mampu berpikir praktis.
Selain ketiga landasan diatas, dalam pembelajaran terpadu perlu juga dipertimbangkan landasan lainnya yaitu landasan sosial-budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
D.  Prinsip-Prinsip Pembelajaran Terpadu
Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Dapat digunakan dengan mudah untuk memadukan mata pelajaran, (2) dapat memberikan bekal siswa bagi siswa untuk belajar selanjutnya, (3) disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, (4) mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa, (5) mempertimbangkan peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi di dalam rentang waktu belajar, (6) mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat, (7) mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
Dalam proses pelaksanaan pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) guru tidak bersikap otoriter yang mendominasi dalam proses pembelajaran, (2) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas, (3) guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran.
Dalam proses penilaian pembelajaran terpadu perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan penilaian diri, (2) guru perlu mengajak siswa untuk menilai perolehan belajar sesuai kriteria keberhasilan kompetensi yang disepati.
E.  Manfaat Pembelajaran Terpadu

Beberapa manfaat yang dapat dipetik dengan pelaksanaan pembelajaran terpadu, antara lain : dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi pengehematan karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, meningkatkan taraf kecakapan berpikir siswa, memberikan penerapan-penerapan dunia nyata sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer pembelajaran, siswa akan lebih aktif dan otonom dalam pemikirannya, membantu menciptakan struktur kognitif atau pengetahuan awal siswa, dan akan terjadi transfer pemahaman dari satu konteks ke konteks yang lain, meningkatkan kerjasama antara para guru, para siswa, guru dan siswa.

Template by:

Free Blog Templates